Total Tayangan Halaman

Sabtu, 10 Maret 2012

Cerber 35. Kasih Tak Sampai. 4. Gelisah

Malam itu Mas Edy sopir pick up setelah sampai rumah gelisah. Ia sedih telah berkata kasar kepada putra Kyia Roziq ketika dihadang di terminal Tuban. Ia takut kalau kata – katanya yang kotor disampaikan kepada ustadznya, Kyai Roziq oleh Romi, putranya. Ia berjanji ingin segera menemui Romi untuk meminta maaf. Ia juga ingin berpesan agar perkataannya yang kotor itu tidak  diceritakan kepada abahnya. ***
Romi menapaki jalan menuju rumah kawannya yang ada disekitar Kantor Kecamatan Tambak Boyo. Pakaiannya basah kuyup. Tidak sehelai benarpun yang masih kering. Tidak sehelai rambutpun yang masih kering. Ia kedinginan.

Beberapa menit kemudian sampailah dirumah kawannya. Lampu didalam rumah itu sudah dipadamkan. Maka didalam rumah itu gelap.  Tidak tampak ada orang yang masih terjaga. Hanya lampu teras saja yang masih dihidupkan. 

Saat yang demikian Romi bingung.  Apa yang harus dilakukan. Mau mengetuk pintu tidak sopan. Mau duduk diteras saja juga tidak enak. Takut disangka penjahat. Dan yang paling menyiksa adalah semua pakaiannya basah. Merasa dingin. Dan semakin dingin ketika angin laut berhembus. 

Romi berjalan menuju masjid ditemani dengan rintik – rintik hujan dan hembusan angin laut. Badannya yang masih basah semakin basah. Badannya yang sudah dingin semakin dingin. Perutnya terasa sakit karena terlalu dingin itu. 

Sampai dimasjid Rmi segera menuju kekamar mandi. Ia membuka pakaian dan mencucinya. Selasai dicuci pakaiannya itu diperasnya kuat – kuat untuk meminimkan air yang melekat di kain pakaian itu. Kemudian pakaian itu dikibaskan beberapa kali agar sisa air yang  menempel di kain semakin sedikit. Setelah itu kain dibeber di dekat listrik.

Romi lantas mandi. Ia mandi tanpa pakai sabun dan keramas tanpa pakai sampo. Ia hanya mandi dengan air saja. Ketika pertama kali menumpahkan air kebadannya air terasa sangat dingin. Tetapi rasa dingin itu tidak dipedulikan.

Selesai mandi Romi memakai pakaiannya yang masih basah itu. Lantas ia pergi keserambi masjid. Dalam kondisi basah itu ia ingin melakukan sholat lail (sholat malam). Ia tidak berani berdiri ditempat yang ada karpetnya. Takut karpetnya basah kena air yang masih setia menempel dipakaiannya. Ia takut menyusahkan penjaga masjid.

Setelah memusatkan pikiran Romi melaksanakan sholat tahiyatul masjid dan dilanjutkan sholat lail beberapa rokaat. 

Beberapa rokaat sholat malam telah Romi lakukan. Tiba – tiba Romi ingat peristiwa yang dialami sepanjang hari. Ingat Tiara yang cantik yang selalu memburu dan menggodanya. Ingat peristiwa dikeroyok oleh orang – orang diterminal. Ingat wanita cantik di bis yang melemparkan kepalanya sehingga kepalanya membentur dinding dengan keras. Ingat air liur busuknya menetes didada wanita tersebut. Ingat dompetnya hilang. Ingat makan nasi di sebuah warung tanpa membawa uang, sehingga penjual nasi menyuruhnya mencari pinjaman uang. Ingat ketika menghadang mobil pick up dan menggertak sopirnya. 

Ketika ingat Tiara hatinya berbunga – bunga. Ia merasa bangga karena dirinya yang hanya santri kampung dikejar – kejar oleh seorang gadis cantik kota Surabaya. Gadis yang sudah kuliah lagi. Tetapi ia menyayangkan bahwa Tiara menggodanya hanya dengan modal kecantikan, ilmu pengetahuan, dan harta saja. Gadis cantik itu tidak punya modal agama yang cukup. Sehingga ia berakhlaq sesuai dengan hawa nafsunya. Tidak berakhlaq dengan akhlaq islami. Kalau saja Tiara berakhlaq islami ia mengharapkan untuk bisa hidup satu atap. Hidup dalam sebuah keluarga yang dibina menurut Islam.

Romi gelisah malam itu. Ia merasa bersalah kepada Tiara. Karena ia telah berprasangka buruk terhadap Tiara. Ia telah memperlakukan Tiara kurang ramah. Ia berjanji suatu ketika ia akan pergi menjumpai Tiara dan minta maaf.  

Romi merasa bersalah kepada Hasan, kawannya. Sebagai tamu ia seperti kurang menghormati tuan rumahnya. Ia telah berdebat dengan kawannya itu dengan tegang. Suatu ketika ia akan pergi kerumah kawannya itu lagi untuk minta maaf.

Romi ingat juga seorang wanita cantik dalam bis yang duduk disebelah kirinya. Ia merasa sangat bersalah dengan wanita itu. Karena ia telah membuat wanita itu sakit hati dan marah berat. Karena air liurnya yang berbau busuk telah menetes didada wanita tersebut. Ia berjanji kalau suatu ketika bisa berjumpa dengan wanita itu lagi ia akan mengganti pakaian itu dengan satu stel pakaian yang lebih bagus dari pada pakaian yang kena air liur busuknya. Ia berharap kata maaf dari wanita itu.

Romi ingat juga terhadap wanita penjual nasi krengsengan di terminal Tuban. Ia merasa bersalah makan nasi krengsengan tidak membawa uang. Sehingga ia diusir dan harus mencari uang pinjaman. Ia pamit mencari pinjaman, tetapi tidak mencari pinjaman. Ia pulang. Ia berjanji kalau saja ia sudah bisa menjumpai penjual nasi krengsengan tersebut ia akan membayar hutangnya tiga kali lipat. Karena ia beranggapan, bahwa penjual nasi itu pertama sudah memberikan pinjaman nasi krengsengan. Kedua, penjual tersebut sudah menjaga barang – barang miliknya. Ketiga, penjual tersebut telah  bersikap sopan.

Romi juga ingat ketika menghadang mobil kang Edy. Ia merasa bersalah karena ia telah mengganggu perjalanan Kang Edy. Suatu ketika ia ingin memberikan bingkisan untuk kang Edy.

Ketika melamun semacam itu Romi tidak merasakan dingin lagi. Ia tidak merasakan dinginnya pakaian basah. Dinginnya hembusan angin laut. Dan dinginnya malam. Rasa dingin itu tertutpi oleh rasa gelisah dan salah.

Lamunan Romi buyar ketika tiba – tiba ada suara sandal menuju masjid. Ia menoleh kearah suara sandal tersebut. Ia melihat sesosok orang tua berjubah dengan mulut komat – kamit menuju serambi masjid.
____________________
Insyaalloh bersambung

SURAT 93. ADH DHUHAA



Terjemahan Text Qur'an Ayat
Demi waktu matahari sepenggalahan naik, وَالضُّحَى 1
dan demi malam apabila telah sunyi, وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى 2
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى 3
dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى 4
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى 5
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى 6
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. وَوَجَدَكَ ضَالا فَهَدَى 7
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. وَوَجَدَكَ عَائِلا فَأَغْنَى 8
Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ 9
Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ 10
Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).

Cerber 34. Kasih Tak Sampai. 4. Gelisah


Lia terdiam. Ia merenungkan kembali kekasarannya didalam bis terhadap orang yang disebutkan sebagai ustadz kemenakannya itu. Ia mencari cara agar tidak bisa ketahuan oleh orang yang pernah dihinakan dalam bis itu. 

“Kalau begitu dompet itu berikan kepadanya tanpa menyebutkan siapa yang menemukan. Sehingga dia tidak mengetahui kalau bibi yang telah menemukan dan yang berbuat kasar kepadanya.”

“Bagaimana Syukur bisa berbohong kepada ustadznya sendiri bibi.”

“Demi untuk menjaga keselamatan bibimu sendiri.”

“Apakah tidak sebaiknya bibi minta maaf saja kepada beliau.”

“Hemmm … Bagaimana ya enaknya ?”

“Menurut Syukur lebih baik minta maaf saja bibi. Karena lain kali kalau berjumpa tidak ada rasa malu lagi bibi.”

“Ya sudah, aku pikir dulu. Besuk ya, aku kasih jawabannya. Sekarang pulanglah !”

Syukur keluar rumah bibinya dengan membawa oleh – oleh dari bibinya. Sampai diluar ia langsung menstart motor Tigernya dan tancap gas menuju rumahnya.

Syukur ikut gelisah atas peristiwa yang menimpa gurunya gara – gara bibinya itu. Ia menjadi repot mau memberikan dompet ustadznya dipesantren. Kalau ketahuan yang sudah berlaku kasar adalah bibinya maka ia sangat malu. Mungkin di pesantren tidak bisa akrab dengan ustadz yang dikaguminya itu seperti dulu lagi.
Sejak mengetahui bahwa pemuda yang kepalanya ia sodok dengan keras itu adalah ustadz kemenakannya, Lia tidak bisa tenang. Malam itu Lia hamper tidak bisa tidur. Ia hanya berfikir bagaimana cara untuk menghindari beretmu dengan pemuda yang telah ia sakiti itu. Ia berharap kalaulah lain kali berjumpa mudah – mudahan dalam perjumpaan yang menyenangkan.

Maka sejak itu ia selalu berdoa dan mengirim fatihah untuk pemuda, Romi  yang telah ia sakiti itu. Ia sangat berharap agar kalau suatu ketika berjumpa Alloh memberikan perjumpaan yang sangat indah. ***

Ketika Romi keluar dari warungnya, penjual nasi diterminal itu mengikuti langkah – langkah Romi dengan pandangan matanya. Ia juga melihat ketika Romi menghadang puluhan mobil dan mobil itu tidak ada yang mau berhenti. Ia melihat baju Romi basah kuyup. Ia juga melihat ketika Romi berdiri ditengah – tengah jalan untuk memberhentikan mobil dengan paksa. 

Ketika mau tidur melihat putra – putrinya ia langsung teringat kepada  pemuda yang baru saja membeli nasi di warungnya. Ia menyesal telah memperlakukan pemuda itu dengan perlakuan yang kurang baik. Ketika itu naluri kewanitaannya timbul. Naluri keibuannya muncul. Ia menyesal tidak mau menolong orang yang benar – benar dalam kesusahan. Padahal pemuda itu begitu tulusnya mengatakan keadaan dirinya.  Pemuda itu sampai mengeluarkan apa yang ada dalam tasnya. Empunya warung penjual nasi di terminal Tuban malam itu gelisah.

Saat itu penjual nasi tersebut bergumam “Aku tidak selayaknya memperlakukannya sekeji itu. Hanya sepiring nasi sisa sangat tidak berarti. Hanya uang tujuh ribu tidak ada nilainya dibanding dengan kesedihan yang ditanggung pemuda itu. Aku berjanji suatu ketika dia kesini untuk melunasi hutangnya kepadaku, maka akan aku beri makan sepuasnya tanpa bayar. Dan akan aku beri nasi untuk dibawa pulang pula. Aku benar – benar menyesal.”***

Malam itu Mas Edy sopir pick up setelah sampai rumah gelisah. Ia sedih telah berkata kasar kepada putra Kyia Roziq ketika dihadang di terminal Tuban. Ia takut kalau kata – katanya yang kotor disampaikan kepada ustadznya, Kyai Roziq oleh Romi, putranya. Ia berjanji ingin segera menemui Romi untuk meminta maaf. Ia juga ingin berpesan agar perkataannya yang kotor itu tidak  diceritakan kepada abahnya. ***
_______________-
Insyaalloh bersambung...

SURAT 94. ALAM NASYRAH



Terjemahan Text Qur'an Ayat
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ 1
Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ 2
yang memberatkan punggungmu? الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ 3
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ 4
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 5
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا 6
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ 7
dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ 8

Cerber 33.Kasih Tak Sampai 4. Gelisah

Lia membuka dompet itu pelan – pelan dengan hati dsg dig dug. Kemudian mengeluarkan semua isinya. Diamatinya KTP, kartu santri dan kartu OSISnya. 

Setelah mengamati KTP, karyu santri dan kartu OSISnya ia tahu bahwa nama empunya dompet adalah Romi. 

Kemudian Lia mengamati foto yang ada di KTP. Tetapi foto itu terlalu kecil. Sehingga tidak begitu jelas wajah Romi. Lantas ia mengamati kartu OSISnya. Tetapi foto yang dikartu ini juga tidak begitu jelas. Selanjutnya ia mengamti foto yang ada di kartu santri. Foto yang berada di kartu santri ini agak lebih besar. Dibanding dengan foto di kedua kartu ini yang menempel di kartu santri lebih jelas. Ia mengamati dengan sekesama foto ini. Ia membandingkan dengan bayangan wajah Romi yang ia jumpai di bis. Ia menyimpulkan tidak ada kesamaan. Karena wajah yang ia dapati di bis bengkak – bengkak. Sedang wajah yang ada dalam kartu santri tidak ada bengkaknya. Ia menyimpulkan wajah yang ada di kartu santri jauh lebih  tampan dibanding dengan wajah yang ada di jumpai di bis.    

“Bibi ! Mana oleh – olehnya untuk mama dan adikku ? Katanya mau membelikan oleh – oleh.” Panggil kemenakannya, Syukur dari luar kamar.

“Sebentar ! Bibi masih ganti pakaian.” Jawab Lia beralasan.

“Tapi sudah lama aku menunggu. Mama dan adikku keburu terlelap tidur nanti.”

“Ya, tunggu sebentar !” Pinta Lia terhadap putra mbakyunya, Syukur.

Lia keluar dari kamar. Tangan kirinya menenteng tas kresek berisi kue pudak. Sedang tangan kanannya memegang dompet jelek.

“Ini, bibi hanya membeli pudak. Hujan tiada henti, jadi bibi tidak bisa belanja lebih leluasa lagi.” 

“Hehehehe…. Bibi mau ngasih uang juga kan ?” Tanya Syukur.

“Uang untuk apa ?”

“Uang untuk ojeknya bibi. Itu bibi pegang dompet. Mesti bibi akan nagsih uang.”

“Hemmm …. Ini bukan dompet bibi. Tapi ini dompet penumpang yang duduk disebelah bibi. Penumpang yang sudah membuat bibi tersiksa.” Jawab Lia.

“Ouu …. Jadi bibi merampas dompetnya ? Bibi jahat kali.”

“Tidak begitu. Dia mengantuk dan berkali kali kepalanya disandarkan dibahu dan dada bibi. Jadinya bibi sangat jengkel. Dan yang paling jengkel ia sampai menumpahkan air liur di baju bibi. Itu tengok air liurnya yang busuk masih bisa dilihat di baju dalam bak pakaian kotor itu.”

“Ah yang benar bibi bilang. Masak ia tega sengaja menumpahkan air liurnya di baju bibi ?”

“Katanya sih tidak sengaja. Tapi masak sepanjang perjalanan ia tidur melulu. Maka ketika itu kepalanya aku benturkan kedinding bis sebelah kirinya. Agar ia terbangun. Setelah terbangun ia minta maaf. Kemudian ia turun di terminal Tuban. Padahal rencananya turun di Tambak Boyo.”

“Oouu … begitu. Adakah KTP, atau kartu tanda pengenal lain bibi ?” Tanya Syukur kepada bibinya.

“Ada. Bahkan kartu tanda pengenalnya ada tiga didalam dompet itu. KTP, kartu OSIS dan kartu santri.”

“Coba aku lihat bibi !”

Lia memberikan dompet itu kepada Syukur, kemenakannya. Syukur membuka dompet itu. Ia mengamati tiga kartu tanda pengenal. KTP Desa Belik Anget, kartu OSIS, dan kartu santri. Beberapa saat ia mengamati.

“Astaghfirullohal adhim. Hemmm…!” Gumam Syukur.

“Kenapa ?”
 
 “Kalau kartu ini benar miliknya, maka ia adalah ustadzku. Aku akan malu menyerahkan dompet ini bibi.”

“Apakah benar itu ustadzmu ?”

“Ya. Dia ustadz yang luar biasa hebat bibi. Dia di pesantren terkenal mempunyai ilmu laduni. Ilmu yang tanpa belajar bisa dikuasai.”

Lia terdiam. Ia merenungkan kembali kekasarannya didalam bis terhadap orang yang disebutkan sebagai ustadz kemenakannya itu. Ia mencari cara agar tidak bisa ketahuan oleh orang yang pernah dihinakan dalam bis itu. 
____________________
Insyaalloh bersambung

Cerber 32.Kasih Tak Sampai 4. Gelisah


Mendengarkan Jaka mau pergi dengan Vivi, darah Tiara naik. Ia marah campur cemburu terhadap Jaka. Karena Vivi adalah gadis cantik bekas pacar Jaka. Bahkan Tiara masih ingat ketika ia merebut Jaka dari Vivi. Sehingga sampai beberapa bulan Tiara tidak saling sapa dengan Vivi yang teman akrab satu jurusan dan pada semester yang sama. Hanya untungnya Vivi merasa kalah dan segera mencari pengganti Jaka. Setelah Vivi mendapatkan pengganti Jaka, ia berusaha menjalin hubungan yang baik lagi dengan Tiara.

Tiara melemparkan badannya disofa. Ia tengkurap dan menangis. Ia bimbang. Hatinya bergemuruh. Saat itu hatinya terbelah menjadi dua. Separoh hatinya masih menyimpan Jaka yang berkehidupan glamour. Separoh lagi terisi oleh Romi. Pemuda sederhana, santri yang tenang menghadapi berbagai hal, kokoh dalam pendirian, dan tidak mudah terjatuh dan terjebak dalam rayuan wanita.

Tiara membayangkan sifat – sifat positif Jaka. Membayangkan ketampanannya. Membayangkan kalimat – kalimat rayuannya yang sangat manis. Membayangkan kesetiannya. Membayangkan kecerdasannya. Membayangkan semangatnya yang tinggi. Membayangkan kepanadaiannya menebar semangat ketika dirinya lemah. 

Tiara juga membayangkan sifat – sifat negative Jaka. Membayangkan mudahnya Jaka terbuai oleh rayuan kata – kata manis wanita. Membayangkan kesukaannya berjudi. Membayangkan kesukaannya minuman keras. Membayangkan sukanya menipu orang tuanya. Tiara juga membayangkan kemungkinan dirinya telah di tipunya. Membayangkan pula suka memanas – manasi seperti yang baru saja dikatakan “bahwa Jaka akan pergi dengan Vivi.” 

Tiara tiba – tiba muak terhadap Jaka. Tapi hatinya masih mengakui bahwa Jaka masih menjadi Raja dihatinya.

Tiara membayangkan Romi. Pemuda itu begitu lugunya. Berbagai rayuan yang ditebarkan olehnya tidak mempan sama sekali. Membayangkan betapa kokohnya pendapat pemuda itu. Membayangkan betapa tenangnya menghadapi setiap orang. Membayangkan betapa hebatnya ilmu beladirinya. Membayangkan betapa mulianya akhlaqnya.

Dalam hati Tiara terbersit bahwa pemuda itu bisa menggantikan Jaka sebagai raja di hatinya. Tetapi ia ragu. Memang diakhir pertemuannya, Tiara bisa menyimpulkan bahwa Romi tertarik terhadap dirinya. Walapun hanya sedikit. Tetapi ia tidak yakin apakah Romi mau dengan dirinya. Apakah Romi belum mempunyai pacar ?

Tiara membuka HPnya lagi. Ia SMS terhadap pacarnya, Jaka.

“Awas kalau kamu pergi nonton bersama Vivi ! Akan tammat riwayatmu.” Ancam Tiara terhadap Jaka dengan sangat keras. 

Tiara mematikan Hpnya lagi. Ia masih tengkurap disofa. Ia terus merenungkan tentang Romi. Ia bergumam “Hemmm… Apakah kamu juga memikirkanku malam ini Romi ? Romi, kalau saja alamatmu dekat, malam ini juga aku datang kerumahmu. Berbagai alasan akan aku buat. Hatiku tidak betah menahan rasa rindu ini. Aku seperti gila saja malam ini. Aku berjanji dalam hatiku. Suatu ketika nanti aku akan datang kerumahmu. Kamu akan aku taklukkan. Berbagai cara akan aku lakukan demi untuk menaklukkanmu. Sekalipun aku harus memakai jilbab layaknya santri atau bahkan layaknya ustadzah. Ataupun aku harus belajar agama lagi, maka aku akan belajar agama kepada sepupuku lagi . Mulai besuk aku akan belajar agama lagi dengan tekun.  Romi, mudah – mudahan malam  ini kamu juga memikirkanku.”***

Saat itu di belahan bumi Desa Sawir masih hujan. Rintik – rintik air masih menyapa dedaunan. Masih menyapa bumi. Begitu sampai rumah Lia segera melepaskan pakaian kotornya. Ia melemparkan pakaian tadi dibak tempat pakaian kotor. Segera ia menyambar handuk dan pergi kekamar mandi.   

Selesai mandi ia pergi kekamar dan tidak keluar lagi. Ia penasaran terhadap dompet yang ditemukan di dalam bis. Ia penasaran terhadap pemuda yang duduk disebeleh kanannya di bis. Pemuda yang telah menumpahkan air liurnya dibajunya sampai tembus kulit dadanya. Ia ingin mengetahui siapa sebenarnya pemuda itu.

Lia membuka dompet itu pelan – pelan dengan hati dsg dig dug. Kemudian mengeluarkan semua isinya. Diamatinya KTP, kartu santri dan kartu OSISnya. 

Setelah mengamati KTP, karyu santri dan kartu OSISnya ia tahu bahwa nama empunya dompet adalah Romi. 
___________________________

Jumat, 09 Maret 2012

Pengertian Hadits


Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an.
Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah.
Ada bermacam-macam hadits, seperti yang diuraikan di bawah ini.
  • Hadits yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi
    • Hadits Mutawatir
    • Hadits Ahad
      • Hadits Shahih
      • Hadits Hasan
      • Hadits Dha'if
  • Menurut Macam Periwayatannya
    • Hadits yang bersambung sanadnya (hadits Marfu' atau Maushul)
    • Hadits yang terputus sanadnya
      • Hadits Mu'allaq
      • Hadits Mursal
      • Hadits Mudallas
      • Hadits Munqathi
      • Hadits Mu'dhol
  • Hadits-hadits dha'if disebabkan oleh cacat perawi
    • Hadits Maudhu'
    • Hadits Matruk
    • Hadits Mungkar
    • Hadits Mu'allal
    • Hadits Mudhthorib
    • Hadits Maqlub
    • Hadits Munqalib
    • Hadits Mudraj
    • Hadits Syadz
  • Beberapa pengertian dalam ilmu hadits
  • Beberapa kitab hadits yang masyhur / populer

SURAT 95. AT TIIN



Terjemahan Text Qur'an Ayat
Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ 1
dan demi bukit Sinai, وَطُورِ سِينِينَ 2
dan demi kota (Mekah) ini yang aman, وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ 3
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ 4
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ 5
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ 6
Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ 7
Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ 8

CERBER.1. 31. KASIH TAK SAMPAI. 4. Gelisah


Kebiasaan Tiara setiap malam minggu mesti membuat acara diluar rumah. Macam – macam acara  yang diadakan. Pergi kerumah kawan untuk sekedar menghilangkan rasa suntuk dan berdiskusi. Pergi ketempat – tempat hiburan dengan pacar. Pergi berkendara hanya sekedar mencari suasana baru. Pergi ketempat – tempat pusat perbelanjaan untuk shopping.

Malam minggu itu Tiara tidak pergi kemana – mana. Ia hanya didalam kamar saja. Ia sedang gelisah sejak bertemu dengan santri yang bernama Romi. Pikirannya melayang jauh ke tempat seseorang, Romi yang ada di daerah kabupaten Tuban.

“Hello sayang ! Jam berapa nanti aku jemput ?” Tanya seorang lelaki melalui tilpun seluler.

“Malas mas. Malam ini aku lagi tidak enak badan mas.” Jawab Tiara singkat terhadap Jaka, pacarnya.
“Sakit apa sayang ?”

“Tadi sore aku kehujanan jadinya badan panas dingin.”

“Oouu…. Sudah diobatin apa belum say ?”

“Sudahlah mas, tidak usah tanya – tanya lagi. Pikiranku lagi tidak bisa fokus !”

“Bagaimana acara nonton bareng, jadi apa tidak ?”

“Hemmm…. Apakah mas Jaka menghendaki aku jatuh sakit ? Aku sudah bilang jangan ganggu aku lagi ! Aku lagi tidak fokus mas. Aku lagi tidak mood mas. Aku lagi ingin istirahat.”

“Sayang banget. Aku sudah mempersipan segala sesuatunya agak special malam ini. Karena malam ini kan malam minggu menjelang akhir tahun. Terus aku harus pergi dengan siapa sayang ?”

“Terserah mas sajalah ! Mau pergi dengan siapa aku tidak urus.” Jawab Tiara bernada marah.

Malam ini Jaka merasakan ada sesuatu yang lain dengan Tiara. Sebelumnya Tiara tidak pernah berkata sekeras dan secuek itu terhadap dirinya. Ia timbul tanda tanya dihatinya. Tiba – tiba pikiran Jaka timbul su’udhon terhadap Tiara. Ia ingin membuktikan prasangka buruknya itu terhadap Tiara.
“Bagaimana kalau aku pergi sama Vivi sebagai penggantimu ?”

“Embuh aku tidak urus.” Jawab Tiara sambil mematikan HPnya.

Mendengarkan Jaka mau pergi dengan Vivi, darah Tiara naik. Ia marah campur cemburu terhadap Jaka. Karena Vivi adalah gadis cantik bekas pacar Jaka. Bahkan Tiara masih ingat ketika ia merebut Jaka dari Vivi. Sehingga sampai beberapa bulan Tiara tidak saling sapa dengan Vivi yang teman akrab satu jurusan dan pada semester yang sama. Hanya untungnya Vivi merasa kalah dan segera mencari pengganti Jaka. Setelah Vivi mendapatkan pengganti Jaka, ia berusaha menjalin hubungan yang baik lagi dengan Tiara.

Tiara melemparkan badannya disofa. Ia tengkurap dan menangis. Ia bimbang. Hatinya bergemuruh. Saat itu hatinya terbelah menjadi dua. Separoh hatinya masih menyimpan Jaka yang berkehidupan glamour. Separoh lagi terisi oleh Romi. Pemuda sederhana, santri yang tenang menghadapi berbagai hal, kokoh dalam pendirian, dan tidak mudah terjatuh dan terjebak dalam rayuan wanita.

Tiara membayangkan sifat – sifat positif Jaka. Membayangkan ketampanannya. Membayangkan kalimat – kalimat rayuannya yang sangat manis. Membayangkan kesetiannya. Membayangkan kecerdasannya. Membayangkan semangatnya yang tinggi. Membayangkan kepanadaiannya menebar semangat ketika dirinya lemah. 

Tiara juga membayangkan sifat – sifat negative Jaka. Membayangkan mudahnya Jaka terbuai oleh rayuan kata – kata manis wanita. Membayangkan kesukaannya berjudi. Membayangkan kesukaannya minuman keras. Membayangkan sukanya menipu orang tuanya. Tiara juga membayangkan kemungkinan dirinya telah di tipunya. Membayangkan pula suka memanas – manasi seperti yang baru saja dikatakan “bahwa Jaka akan pergi dengan Vivi.”
___________________

CERBER.1. 30. KASIH TAK SAMPAI. 4. Preman yang Baik Hati


Tidak lama kemudian ada mobil yang lewat. Mobil itu mengklakson terus. Tetapi Romi malah menghadang ditengah jalan. Ia merentangkan tangan. Seakan menantang untuk ditabrak. Setelah dekat mobil berhenti pula. Sopirnya marah dan mengeluarkan kata – kata kotor.

“Bangsat ! Minggir bodoh ! Menyidam mati ya ?” Hardik sopir terhadap Romi.

“Apa katamu ? Sedikit sopan ya ? Kamu sopir kan ? Awas kalau tidak mau berhenti akan aku hadang kapan saja kamu lewat lagi. Berhenti ?” Bentak Romi kepada sopir itu.

“Hei bodoh sudah gila ya ? Cepat minggir ! Kalau tidak akan aku tabrak kamu.”

“Kamu tengok wajahku ! Kamu lihat apa tidak wajahku yang bengkak ini ? Aku tidak takut siapapun kamu. Aku sudah biasa berkelai. Kamu ingin selamat apa tidak ? Kalau kamu tidak mau berhenti barang sejenak akan aku panggilkan kawan – kawanku.” Gertak Romi dengan nada tinggi sambil mengeluarkan HP jadulnya yang sebenarnya tidak berfungsi lagi.

“Apa maksudmu menghadangku ?”

“Aku hanya ingin menumpang mobilmu sampai Tambak Boyo saja. Setelah itu aku turun disana dan kamu silahkan melanjutkan perjalanan. Setelah itu akau tidak akan menghalangimu lagi. Dan aku tidak akan meminta apa – apa. Aku hanya ingin menumpang saja. Selain itu tidak.”

“Okelah kalau begitu. Silahkan naik sekarang juga !” Sopir mempersilahkan Romi untuk menumpang di mobil pick upnya.

Setelah dipersilahkan Romi naik di bak belakang pick up itu. Ia kehujanan. Tetapi ia bersyukur mendapatkan tumpangan. Setelah menumpang dibelakang ia tertawa sendiri. Ia berlagak menjadi preman sebentar.
Sekitar satu jam kemudian mobil sampai Kecamatan Tambak Boyo. Mobil berhenti. Sopir mempersilahkan Romi untuk turun.

“Hei …. Sudah sampai Tambak Boyo. Cepat turun ! Atau kalau tidak turun aku bawa ke Bulu nanti.” Bentak sopir.

“Sebentar pak sopir. Aku mau mengucapkan terima kasih ini.”

“Mau mengucapkan terima kasih kepada siapa ?”

Romi turun dan menuju kearah sopir.

“Pak Sopir, terima kasih ya atas pertolonganmu. Aku tadi sebenarnya hanya menggertak saja. Karena aku sangat kedinginan. Aku tidak punya uang seperakpun. Karena dompetku terjatuh entah dimana. Karena itu aku tidak bisa pulang kalau tidak menghadang dengan paksa. Sudah puluhan mobil aku berhentikan tidak ada yang mau berhenti. Maka terpaksa aku menghadang mobilmu ditengah jalan. Lain kali kalau ada sempat silahkan datang kerumahku. Kalau pak sopir minta bayar akan aku bayar nanti kalu sudah sampai rumah. Kenalkan saja namaku Romi putra Kyai Roziq Desa Belik Anget.” Jelas Romi kepada sopir.

Sopir itu terkejut ketika Romi menyebutkan kalau dirinya adalah putra Kyai Roziq. Ia turun dari tempat duduknya. Ia pergi mendekati Romi sambil berkata.

“Maaf gus ! Silahkan naik lagi ! Akan aku antar sampai rumah gus. Kenalkan namaku Edy ! Aku salah seoarng anggota jamaah pengajian abahmu gus. Tapi kenapa wajahmu bengkak – bengkak.” Jelas sopir mobil itu.

“Tidak usah mas. Aku turun disini saja. Biarlah aku nanti mencari kawanku yang berdomisili disekitar  kantor kecamatan ini. Aku akan minta diantar olehnya besuk pagi saja. Ini sudah terlalu malam kalau pulang kerumah. Mau tidur diasrama juga tidak enak sama para santri mas. Sedangkan wajahku lebam – lebam ini karena dikeroyok orang banyak di terminal Bungurasih. Aku di anggap pencopet.”

“Ooo …. Jadi gus Romi di hajar diterminal ? Kalau begitu ini ada uang sedikit. Bawalah untuk makan malam dan sarapan besuk pagi.” Kata sopir.

“Maaf pak sopir ! Tidak usah. Aku masih punya simpanan kok. Matur nuwun saja pak sopir. Uang pak sopir buat jajan anak – anak pak sopir saja.” 

“Simpanan apa ? Simpanan lapar, lelah dan kedinginan kan ?” 

“Aku masih mempunyai simpanan. Simpanan hati nurani. Walaupun tadi aku berlagak jadi preman memaksa mobilmu untuk berhenti tapi aku tidak meminta apa – apa. Aku menghadang kamu hanya karena terpaksa. Aku melakukan itu hanya ingin segera sampai dirumah. Besuk pagi ingin bisa pergi ke Terminal Tuban, bisa membayar hutangku ke penjual nasi diterminal Tuban tadi.”

“Ooo… Gus Romi punya hutang di warung penjuang nasi terminal Tuban ? Biarlah besuk aku yang membayar hutang Gus Romi.” Pinta Mas Edy.

“Tidak usah. Aku sudah merasa berdosa dengan menghadang mobil kang Edy. Maka aku tidak ingin menambah kesusahan kang Edy. Apalagi menyusahkan dalam hal material.”
“He he he …. Dasar preman. Preman yang baik hati.” 

Romi tidak menimpali seloroh pak sopir. Ia nglenyor pergi setelah jabat tangan dengan sopir pick up tersebut. Ia menuju salah seorang kawannya yang ada disekitar kecamatan Tambak Boyo Kabupaten Tuban.

Sopir pick up itu memacu mobilnya lagi. Melaju kearah barat dengan kecepatan sedang menuju ke Desa Bulu.  

Malam semakin larut. Tetes – tetes air hujan masih juga jatuh kebumi. Angin laut berhembus pelan. Menebarkan hawa dingin, menjadi semakin dingin. Kota Kecamatan Tambak Boyo sepi dan semakin sepi.***
_______________